Selasa, 08 Februari 2011

TEORI MODERN TENTANG PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Makalah Kelompok
Teori Modern TENTANG Perdagangan Internasional

Makalah ini diajukan sebagai pemenuhan Tugas Tersruktur
Mata Kuliah Ekonomi Internasional
Dosen Pengampu : Layaman, S.E, M.Si


DIsusun Oleh : Yadi Supriadi
Nim : 07440624

FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (EKONOMI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI
CIREBON 2010



BAB I
Pendahuluan
Perbedaan harga relative komoditi yang berlaku di masing-masing ( dari dua ) Negara merupakan sumber keunggulan komparatif bagi masing-masing Negara yang bersangkutan, dan sekaligus berfungsi sebagai pendorong berlangsungnya hubungan dagang yang saling menguntungkan di antara kedua Negara tersebut. Sekarang kita akan beranjak satu lamgkah lagi dalam pembahasan mengenai model pardagangan internasional guna memahami alas an atau sebab-sebab adanya perbedaan harga relative di antara komoditi-komoditi itu sendiri, dan latar belakang munculnya keunggulan komparatif tertentu bagi masing-masing Negara tadi. Selanjutnya hal penting kedua dalam rangka mengembangkan model perdagangan internasional terhadap harga atau pendapatan factor-faktor produksi di masing0masing Negara yang terlibat dalam perdagangan. Artinya, kita akan menelaah dampak perdagangan internasional itu terhadap tingkat upah tenaga kerja ( mewakili sebuah factor produksi ), serta selisih pendapatan pekerja di satu Negara dengan Negara lain.
Kedua masalah penting tersebut merupakan pekerjaan rumah bagi para ekonom modern yang ditinggalkan oleh Adam Smith, David Ricardo, John Stuart mill dan para ekonom klasik lainnya yang merupakan perintis teori-teori perdagangan.Menurut para ekonom klasik tersebut, keunggulan komparatif di suatu Negara bersumbaer dari perbedaan tingkat produktivitas tebnaga kerja ( satu-satunya factor produksi yang secara eks[liasit mereka perhitungkan). Sayangnya, para ekonom tersebut tidak menyajikan penjelasan yang cukup rinci mengenai sebab-sebab perbedaan tingkat produktivitas itu sendiri, kecuali bahwa mereka hanya menyebutkan perbedaan tingkat produktivitas acapkali terjadi akibat perbedaan iklim ( dalam model mereka para pekerja itu pada umumnya diserap oleh sektor pertanian yang produktivitasnya tentu saja sangat ditentukan oleh cuaca). Teori Heksacher –Ohlin melangkah lebih jauh dalam mengembangkan model perdagangan klasik tersebut. Heksacher dan Ohlinlah ekonom-ekonom yang untuk pertama kalinya menelaah sebab-sebab munculnya keunggulan komparatif bagi setiap Negara dan dampak-dampak yang ditimbulkan oleh hubungan daganang terhadap pendapatan factor (produksi) di kedua Negara yang bersangkutan.
Gagasan yang menyatakan bahwa sumber utama perdagangan internasional adalah adanya perbedaan karunia sumber-sumber daya antarnegara merupakan salah satu landasan teori yang paling berpengaruh dalam ilmu ekonomi internasional. Teorinya sendiri dikembangkan oleh dua ekonom terkemuka berkebangsaan Swedia, yakni Eli Heksacher dan salah seorang mahasiswanya yang paling cmerlang, yakni Bertil Ohlin, sehingga teori ini dikenal sebagai teori Heksacher-Ohlin.Karena teori ini sangat menekankan saling keterkaitan antara perbedaan proporsi factor-faktor produksi antarnegara dan perbedaan proporsi penggunaannya dalam memproduksi berbagai macam barang, maka teori tersebut juga sering kali di sebut sebagai teori proporsp factor.



BAB II
Teori Modern tentang Perdagangan Internasional
A. Teori Perbandingan Faktor-Faktor Produksi dari Hecscher dan Ohlin
Menurut teori Hekscher- Ohlin atau teori H-o, perbedaan opportunity cost suatu produk antara satu Negara dengan Negara lain dapat terjadi karena adanya perbedaan, jumlah atau proporsi factor produksi yang dimiliki( endowment factors) masing-masing Negara. Perbedaan opportunity cost tersebut dapat menimbulkan terjadinya perdagangan internasional. Negara-negara yang memiliki factor produksi relative lebih banyak/murah dalam memproduksinya akan melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barangnya. Sebaliknya, masing-masing Negara akan mengimpor barang-barang tertentu jika Negara tersebut memiliki factor produksi yang relative langka/mahal dalam memproduksinya.
Dapat dikatakan bahwa intisari teori Heksacher-Ohlin ( teori H-O) berbunyi sebagai berikut: Sebuah Negara akan menekspor komoditi yang produksinya lebih banyak menyerap factor produksi yang relative melimpah dan murah di Negara itu, dan dalam waktu bersamaan ia akan menimpor komoditi yang produksinya memerlukan sumber daya yang relatif langka dan mahal di Negara itu. Singkatnya, sebuah Negara yang relative kaya atau berkelimpahan tenaga kerja akan mengekspor komoditi-komoditi yang relatif padat tenaga kerja dan mengimpor komoditi-komoditi yang relative padat modal ( yang merupakan factor produksi langka dan mahal di Negara yang bersangkutan ).
Inti dari teori H-O adalah sebagai berikut:
1. Harga/biaya produksi suatu barang akan ditentukan oleh jumlah/proporsi factor produksi yang dimiliki masing-masing Negara.
2. Comparative advantage atau keunggulan dari suatu jenis produk yang dimiliki masing-masing Negara akan ditentukn oleh struktur dan proporsi factor produksi yang dimilikinya.
3. Masing-masing Negara akan cenderung melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang tertentu karena Negara tersebut memiliki factor produksi yang relative banyak dan murah untuk memproduksinya.
4. Sebaliknya, masing-masing Negara akan mengimpor barang tertentu karena Negara tersebut memiliki factor produksi yang relative sedikit dan mahal untuk memproduksinya.
Kelemahan Teori H-O
Menurut teori H-O, perbedaan harga barang sejenis dapat terjadi karena adanya proporsi/ jumlah factor produksi yang dimiliki masing-masing Negara dalam memproduksi barang tersebut. Dengan demikian, jika jumlah/ proporsi factor produksi yang dimiliki masing-masing Negara relatif sama, maka harga barang yang sejenis akan sama pula sehingga perdagangan internasional tidak akan terjadi. Pada kenyataannya, walaupun jumlah/proporsi factor produksi yang dimiliki masing-masing Negara relative sama, ternyata perdagangan internasional tetap terjadi. Untuk menjelaskan hal ini dan sebagai penyempurnaan dari teori H-O, maka teori opportunity cost dari G. Harberler akan menjelaskan/menganalisis tentang terjadinya perdagangan internasional karena adanya perdbedaan kemampuan masing-masing Negara dan perbedaan selera konsumen di masing-masing Negara.

B. Teori kesamaan Harga Faktor
Teorema penyamaan harga factor ini hanya berlaku jika teorema Heksacher-Ohlin pun berlaku. Tokoh yang pertama kali mengembangkannya adalah Paul Samuelson, seorang ekonom terkemuka berkebangsaan Amerika Serikat yang memenangkan hadiah nobel dalam bidang ilmu ekonomi pada tahun 1976. Samuelsen-lah yang sejak awal berusaha mengembangkan teorema penyamaan harga factor secara utuh. Atas dasar alas an itu pula maka teorema penyamaan harga factor Heksacher-Ohlin tersebut selanjutnya lebih popular dengan sebutan teorema Heksacher-Ohlin-Samuelson (biasa disingkat teorema H-O-S).
Pada intinya teorema tersebut menyatakan bahwa perdaganga internasional cenderung mendororng terjadinya proses penyamaan harga-harga relative di Negara-negara yang terlibat dalam hubungan dagang itu. Selanjutnya, harga-harga relative tersebut akan menimbulkan dampak-dampak yang kuat terhadap pendapatan relative dari para tenaga kerja maupun pemilik tanah. Kenaikan harga kain menyebabkan peningkatan daya beli tenaga kerja bila diukur atas dasar satuan nilai kedua barang, namun dalam waktu bersamaan menurunkan daya beli pemilik tanah yang diukur dalam satuan nilai kedua barang yang sama. Demikian pula sebaliknya, bila yang terjadi adalah kenaikan harga makanan. Oleh sebab itu, hubungan perdagangan internasional memiliki dampak yang sangat kuat terhadap pola distribusi pendapatan. Pada perekonomian Negara 1, dimana harga relative kain mengalami peningkatan, kelompok masyarakat yang pendapatannya berasal dari upah/gaji akan memperoleh keuntunga dari perdagangan, akan tetapi kelompok lain yang pendapatannya berasal dari bunga modal akan menderita kerugian. Sementara itu dalam perekonomian Negara 2, dimana harga relative kain tengah menurun, yang terjadi adalah kebalikannya, para pekerja mengalami kerigian dan pemilik modal memperoleh keuntungan.
Kesimpulan umum tentang dampak perdagangan internasional terhadap pola distribusi pendapatan adalah sebagai berikut: para pemilik factor-faktor produksi yang melimpah disuatu Negara akan memperoleh keuntungan dari adanya hubungan perdagangan, namun para pemilik factor-faktor produksi yang langka di suatu Negara sebaliknya akan mengalami kerugian dari terselenggarakannya perdagangan.Dari asumsi tersebut kita dapat menyatakan definisi teorema penyamaan harga factor( teorma H-O-S ) sebagai berikut: perdagangan internasional akan mendorong terjadinya penyamaan harga-harga factor, baik secara relative maupun secara absolute, diantara Negara-negara yang terlibat di dalamnya.Dengan demikian, perdagangan internasional itu dapat berfungsi sebagai pengganti atau subtitusi bagi mobilitas factor internasional.
Apa yang dimaksud oleh pernyataan diatas adalah bahwa berlangsungnya perdagangan inetrnasional akan membuat tingkat upah tenaga kerja yang homogen (sejenis atau setingkat) menjadi sama besarnya di setiap Negara yang terlibat dalam hubungan dagang. Demikian pula, perdagangan internasional juga akan dapat menyamakan tiongkat hasil atau bunga modal homogeny (yakni modal yang tingkat produktifitas dan resikonya kurang lebih sama0 di setiap Negara yang terlibat dalam perdagangan. Itu berarti perdagangan internasional akan membuat tingkat upah riil atau w di Negara 1 sama besarnya dengan yang ada di Negara 2. Demikian pula, perdagangan antarnegara itu akan membuat suku bunga riil aatu r di kedua Negara tersebut menjadi sama besarnya. Pendeknya, dengan adanya perdagangan internasional, harga-harga factor produksi baik secara relative maupun absolute, lambat laun akan sama besarnya.
C. The Law of Reciprocal Demand
Di dalam hukum permintaan yang timbal balik ini, baik permintaan maupun penawaran, keduanya menentukan jumlah barang yang dijual dan dibeli serta tingkat harganya. Alfred Marshall membandingkan permintaan dan penawaran dengan bagian atas dan bawah dari sebuah gunting, dimana keduanya itulah yang melakukan pemotongan. Menurut John Stuart Mill diperlukan banyak informasi untuk menentukan tingkat harga. Sebagai tambahan terhadap biaya-biaya produksi diperlukan data-data mengenai permintaan. Harga didalam perdagangan internasional ditentukan oleh hukum permintaan yang timbal balik. Hukum tersebut tidak akan berlaku apabila perdagangan berlangsung antara suatu Negara besar dengan suatu Negara kecil, karena tingkat harga di Negara besarlah yang akan berlaku.Akan tetapi, dalam hal permintaan dan penawaran Negara lain, maka akan berlaku hukum tersebut untuk menentukan harga dalam perdagangan yang akan dilangsungkan.
D. Keseimbangan dalam Perdagangan
1. Pengaruh ekonomi internasional terhadap keseimbangan ekonomi
Dengan adanya perdagangan antar dua atau lebih Negara, tentunya berpengaruh terhadap perekonomian internasional dan Negara-negara yang terlibat secara langsung. Hal ini terlihat dari keseimbangan ekonomi yang menjdi dinmis sebagai pengaruh bias keluar masuknya jaringan internasional dalam domestic Negara. Dapat berdampak baik apabila persaingan di pasar internasional mampu membawa Negara tersebut berpartisipasi sebagai pelaku yang tangguh dalam perdagangan internasional dengan menyediakan kebutuhan yang mampu bersaing dalam segala aspek. Namun sebaliknya, jika hanya membawa Negara yang terlibat menjadi bersifat konsumtif tanpa diiringi peningkatan perekonomian dan pendapatan perkapita masyarakat Negara tersebut, cepat atau lambat akan terjadi keruntuhan ekonomi yang dimulai dari jatuhnya nilai mata uang Negara tersebut.
1.1 Pengaruh aspek internasional terhadap keseimbangan supply & demand
Jika pada dasarnya, suatu Negara seperti Indonesia mampu memproduksi dan menyediakan kegutuhan yang memang dibutuhkan dan secara bersaing dalam perdagangan inetrnasional, maka dapat terlihat dalam keseimbangan supply & demand di Indomnesia. Jika permintaan akan kebutuhan yang kita produksi semakin tinggi maka titik keseimbangan supply dan demand akan bergeser ke tingkat yang lebih tinggi dan kemampuan aspek prodiksi akan meningkat seiring berjalannya perubahan tingkat permintaan akan kebutuhan tersebut. Begitu juga sebaliknya, apabila permintaan akan kebutuhan yang kita produksi semakin rendah, maka titik keseimbangan akan bergeser ke tingkat yang rendah dan berpangaruh buruk pada aspek supply dan demand Negara. Kualitas, tingkat produksi, dan segala aspek dalam penyediaan kebutuhan tersebut menentukan akan dibawa kedalam keadaan seperti supply & demand suatu Negara.

1.2 Pengaruh aspek internasional terhadap pendapatan nasional
Seperti yang dibahas dalam sub pokok bahasan diatas, segala aspek internasional khususnya dalam kemampuan persaingan perdagangan internasional akan berpengaruh ke dalam supply dan demand. hal ini juga tentunya berdampak pada tingkat Pendapatan Nasional dimana kesuksesan dalam perdagangan internasional akan berpengaruh terhadap pandapatan nasional baik itu buruk maupun baik. Peningkatan pendapatan nasional akan membantu pembangunan dan kemajuan Negara dan taraf hidup masyarakat. Pendapatan per kapita pun meningkat dan kesejahteraan bukan lagi hal yang sulit dirasakan. Juga sebaliknya, penurunan tingkat pendapatan nasional akan membawa Negara menjadi ketergantungan terhadap Negara lain dan akan melemahkan perekonomian suatau nergara.

BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa teori Heksacher-Ohlin memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan dengan model perdagangan yang sebelumnya. Pada intinya teori standar perdagangan Heksacher-Ohlin tersebut menjelaskan bahwa perdagangan inetrnasional berlangsung atas dasar keunggulan komparatif yang berbeda dari masing-masing Negara. Teori ini juga menyinggung mengenai dampak-damak perdagangan ineternasional terhadap harga atau tingkat pendapatan dari masing-masing factor produksi. Kedua hal yang sangat penting ini belum tersentuh oleh para ekonom mazhab klasik.
Dapat dikatakan bahwa intisari teori Heksacher-Ohlin ( teori H-O) berbunyi sebagai berikut: Sebuah Negara akan menekspor komoditi yang produksinya lebih banyak menyerap factor produksi yang relative melimpah dan murah di Negara itu, dan dalam waktu bersamaan ia akan menimpor komoditi yang produksinya memerlukan sumber daya yang relatif langka dan mahal di Negara itu
Teori Heksacher-ohlin didasarkan pada serangkaian asumsi guna memudahklan dan melancarkan pembahasannya. Hanya saja, sebagian dari asumsinya tersebut terlalu sederhana, atau bahkan sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan.



Cirebon, September 2010

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
BAB II Teori Modern tentang Perdagangan Internasional ……………………. .3
A. Teori Perbandingan Faktor-Faktor Produksi dari Heksacher dan Ohlin 3
B. Teori kesamaan harga faktor 4
C. The Law of Reciprocal Demand 5
D. Keseimbangan dalam perdagangan 6
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan 8
DAFTAR PUSTAKA 9


DAFTAR PUSTAKA


 Hady, Hamdy. 2009. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional. Bogor: Ghalia Indonesia
 Halwani, Hendra. 2002. Ekonomi Internasional da Globalisasi Ekonomi. Bogor: Ghalia
 Nopirin. 1990. Ekonomi Internasional. Yogyakarta: BPFE
 Salvatore, Dominick0. 1996.Ekonomi Internasional. Cetakan Kelima, Jakara : Erlangga
 Soediyono. 1987.Ekonomi Internasional. Yogyakarta: Liberty

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar